KURIKULUM KEHIDUPAN
Pagi itu di Woodrow Wilson High School setelah liburan musim panas, Mrs. Erin Gruwell mengadakan sebuah jamuan untuk murid-muridnya di ruang 203 dengan tajuk “Toast for Change”. Pada perjamuan tersebut, setiap murid diminta untuk maju untuk membagikan pandangan, harapan, dan komitmen mereka. Hal itu dilakukan untuk merayakan kebebasan mereka dari masa lalu yang keras dan penuh intoleransi untuk selanjutnya mengambil arah baru dalam hidup mereka.
Perlahan tapi pasti, setelah perjamuan tersebut dan apa yang dilakukan oleh Mrs. Erin kepada mereka semua, kini murid-murid Erin mulai terbebas dari rasisme serta dampak yang ditimbulkannya. Pada akhirnya, bukan hanya sekedar lulus dari sekolah tersebut sebagai siswa tapi juga mereka lulus sebagai manusia. Kisah Mrs. Erin bersama para muridnya di ruang 203 tersebut dituangkan dalam sebuah film yang berjudul “The Freedom Writers” yang diambil dari nama yayasan “Freedom Writers” yang didirikan oleh Mrs. Erin bersama para muridnya tersebut.
Mrs. Erin Gruwel bersama para muridnya merupakan satu dari sekian banyak kisah yang bisa menjadi inspirasi bagi para pendidik di seluruh dunia tentang hakikat pendidikan yang seharusnya. Tentang bagaimana pendidikan yang menghasilkan manusia yang dinilai berdasarkan “nilai manusia”-nya, bukan pendidikan yang menghasilkan manusia berdasarkan nilai di raport atau ijazahnya. Sebagaimana yang tertuang SE Kemendikbud No. 4 tahun 2020 tentang makna pendidikan berarti memberikan pengalaman belajar pada anak, tanpa terbebani dengan kurikulum untuk kenaikan kelas atau kelulusan. Hal ini seharusnya menjadikan pendidikan sebagai jalan terindah untuk membangun peradaban, karena pendidikan merupakan “alternatif preventif” untuk membangun generasi bangsa yang lebih baik. Dan untuk mencapainya diperlukan sebuah arah atau rambu yang dikenal dengan istilah kurikulum.
Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kurikulum di negara Indonesia telah mengalami 11 kali perubahan yang kesemuanya didasari dengan kata “menyempurnakan”. Namun, pada akhirnya kata “menyempurnakan” itu sendiri menjadi bias jika berhadapan dengan realitas di lapangan, kenyataannya adalah kurikulum yang dicanangkan tidak dapat berjalan sempurna. Kemudian timbul pertanyaan “kurikulum yang bagaimana yang harus dijadikan pedoman?”.
Sejatinya, kurikulum itu sederhana. Dia memuat apa yang akan kita lakukan agar peserta didik yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, malas menjadi rajin, sembrono menjadi disiplin, egois menjadi peduli, destruktif menjadi konstruktif, tidak literat menjadi literat, dan seterusnya. Merujuk kembali kepada SE Kemendikbud No. 4 tahun 2020 dimana pendidikan berarti memberikan pengalaman tanpa terbebani dengan kurikulum untuk “kenaikan kelas atau kelulusan”, maka yang dibutuhkan adalah kurikulum yang berbasis pada kehidupan. “ Jadi kuncinya, anak jangan terlalu ditekan untuk mendapatkan ranking yang bagus. Tugas tenaga pendidik dan orang tua harus mampu untuk memunculkan potensi anak sejak dini. Salah satunya diajak bergembira, rapihkan meja belajar, rapihkan buku, hal-hal sederhana semacam itu, itu juga belajar. Kurikulumnya harus kurikulum kehidupan “ Ujar Kak Seto dalam diskusi webinar Hari Anak Nasional (HAN), yang diselenggarakan DP3AKB Majalengka, LPAI Kabupaten Majalengka dan Forum Anak serta Diskominfo, Sabtu, 24 Juli 2021.
Jadi, yang harus kita ketahui saat ini bahwa kurikulum bukan hanya tertuang pada sebuah dokumen tertulis tapi juga mencakup apa yang dilihat dan dirasa. Keberhasilan sebuah kurikulum bukan ditentukan dari tingginya nilai yang diraih oleh peserta didik, namun diukur dari nilai manusia dari peserta didik tersebut. Hanya saja yang perlu dipahami bahwa keberhasilan kurikulum tidak akan bisa tercapai jika hanya mengandalkan tenaga pendidik, melainkan harus ada peran orang tua demi terjaminnya keberhasilan kurikulum karena kekuatan pendidikan dan kurikulum bukan terletak pada kesempurnaannya tetapi pada keampuhan tangan-tangan dingin para pendidik dan orang-orang yang ada di belakangnya (pemerintah, stake holder sekolah dan orang tua).
